Tampilkan postingan dengan label Kaliandra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kaliandra. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 September 2015

Sebut Saja Ini Rindu...

Pada setiap inci rindu yang kujelajahi
Pada setiap jejak yang kupijak
Pada ranum kenangan yang tak kunjung terjatuh dari ingatanku
Pada luka-duka yang kusembuhkan seorang diri meski tertatih
Pada desir angin, kecipak air, pada senja yang tak pernah terlambat dijemput malam...
Pada dingin tatapan yang membikin gigil
Pada kata-kata nan riuh yang telah banyak kehilangan makna
Juga pada malam-malam tak bernama yang kupeluk erat sambil sesekali menangisi entah...
Aku hanya ingin selalu pulang pada-Mu
Tuhanku.
Pemilik sah atas seluruhku. Segalaku.

=oOo=

Malam demikian melankolik untuk kutinggal tidur. Aku teringat beberapa kawan yang sudah cukup lama tak pernah lagi saling bertukar kabar. Bilang saja aku sedang rindu. Cukup.
Tak jarang aku berpikir dan menuduh diriku sebagai seseorang yang anti-sosial. Terlalu penyendiri, menarik diri dari lingkaran lingkungan. Tetapi, kalau kupikir-pikir lagi, aku bukan orang seperti itu. Ada alasan lain yang membuatku lebih memilih menikmati waktu seorang diri. Aku tidak pernah berniat sedikit pun menjauhi siapapun. Aku—yang kata banyak orang adalah tipe orang yang susah ditebak—tidaklah sesulit itu.
Seseorang hanya perlu meluangkan jeda seluas-luasnya untuk mengenaliku. Mungkin terdengar egois, tapi bukankah sebelum menjatuhkan penilaian terhadap seseorang  atau sesuatu ada baiknya mendekat lalu belajar membaca apa yang tak tertulis pada setiap gerak, warna, sorot, dan garis waktu yang melekat padanya? Dengan demikian, lambat laun kau pun akan melihat jelas apa yang samar, tersamarkan dan berusaha disamarkan? Meski pada akhirnya, tak pernah ada yang benar-benar tahu ada berapa lapisan yang dimiliki bawang (kecuali kamu sedang kurang kerjaan dan mencoba menghitungnya hehehe).
Menyukai, menyayangi, mencintai, adalah perjalanan mengenal sesuatu bukan berdasarkan sudut pandangmu saja.
Tapi orang terlalu sibuk hanya untuk sekadar mengenal dekat kamu hahaha.
Dan kamu boleh mengabaikanku kapanpun kamu menginginkannya karena aku, tanpa kamu tahu aku selalu mengingatmu secara acak pada rentang waktu yang tak terbaca. Mendoakan yang terbaik bagi hidupmu diam-diam. Karena aku, tak pernah lupa menyimpan nama dan wajah orang-orang yang pernah beriteraksi intens denganku di dalam ingatan. Menguncinya di tempat yang bisa kukunjungi setiap waktu.
Tak terhitung berapa kali aku menahan diri untuk tidak menelpon nama-nama familiar di phonebook-ku. Setiap kali keinginan itu datang, kutekankan pada diriku bahwa orang-orang ini pasti sibuk—terlalu sibuk—untuk sekadar menjawab hallo-mu. Begitu saja. Dan selesai. Ng, sebenarnya di samping itu... aku tidak terlalu suka berbicara lama di telepon. Mengirim pesan singkat penuh basa-basi? Orang-orang pasti sangat sibuk dan tidak sempat membalas pesanmu. Atau membalasnya duapuluh jam kemudian.
Kusibukkan saja hatiku dengan mendoakanmu.
Aku benar-benar tidak sesulit yang kamu bayangkan.
Ada jenis-jenis orang yang secara tanpa terencana, aku hindari.
Aku tidak bisa menjelaskan ini, kamu boleh tidak percaya. Ketika bertemu seseorang, aku—tanpa sadar—akan membaca apa yang bersembunyi di balik wajah, kata-kata serta gerak orang tersebut. Dan hasilnya jarang sekali meleset dari kebenaran. Barangkali akibat terlalu sering jadi telinga bagi curhatan orang lain atau karena aku tidak pernah lepas mengamati apapun yang terjangkau mata dan telingaku membentuk ruang kepekaanku terlalu tinggi yang seringkali berimbas tidak baik pada kebiasaanku. Aku cenderung menghindari orang-orang yang di matanya kutemukan rasa tidak aman dan tidak nyaman. Yang sorotnya menyiratkan hal-hal yang tidak akan pernah dia katakan terang-terangan melainkannya menyimpannya untuk diumbar habis-habisan di belakang punggungku—orang-orang seperti ini yang menguatkan niatku menjauh—mereka, yang bertampang ramah tapi bertopeng ganda. Daripada tinggal berlama-lama di dekat orang yang hanya menumbuhkan kemunafikan—berpura-pura tak terjadi apa-apa—maka aku lebih memilih tidak berinteraksi. Itu jauh lebih menyenangkan bagi kedua pihak. Aku tidak perlu mengumbar kepalsuan.
Bersikaplah apa adanya, bukan ada apanya.
Kamu mesti ingat, aku kadang-kadang bisa sangat membosankan. Hihi....
Malam ini, kutandaskan rinduku dalam rumpun doa-doa ritmis pada Tuhan untuk nama-nama yang pernah kuakrabi dan akan terus kuakrabi. Aku punya keinginan menceritakannya pada anak-anakku kelak. Tentang kamu, kalian, yang pernah sangat mesra denganku.
 Semoga.
Aku tidak pernah berharap dilupakan, tapi jika memang harus, kita harus tetap bahagia. Sudah semestinya kita berbahagia untuk hal-hal yang pernah dan belum sempat kita miliki.
Aduhai. Begitu melankoliknya ini malam.
Aku memanggilmu, sayup-sayup tak jelas iramanya. Tapi suara ini, tahu ke mana ia harus menuju. Bisa ke dinding-dinding atau jendela kamarmu, bisa langsung ke langit. Menggantung di sana dengan sabar hingga kelak pulang menemuimu. Ketika kamu tanpa sengaja membuka-buka catatan-catatan lama di bukumu yang usang, atau kamu secara acak mendengarkan lagu-lagu lama dari siaran radio di suatu jalan atau tempat ramai.
Jika saat itu tiba, aku berdoa semoga kita selalu berbahagia.
Teman.


Sabtu, 18 Juli 2015

Untitled Part II

Teras Rumah, 18 Juli 2015
Lepas Magrib, saya duduk sendirian di sini. Merenung entah apa. Tidak jelas. Memandangi semburat senja yang memerah keemasan. Mata saya terasa panas. Sesuatu menyundul ulu hati saya, memunculkan perasaan yang saya tidak tahu apa, namun jelas membikin saya seperti orang yang ingin menangis berlama-lama. Ini sejenis kesepian yang sering saya alami dulu. Lucunya, saya ternyata menikmatinya. Lagi-lagi, saya tidak bisa mengidentifikasi apa yang membuat saya sedih.
Ini hari kedua Lebaran Idul Fitri. Tadi pagi, saya, dua adik saya dan ibu, kami berempat mengunjungi kampung halaman ibu saya dan sekaligus merangkap desa tempat saya dilahirkan Duapuluh Enam tahun silam. Seingat saya, sudah terlalu lama sejak saya menginjakkan kaki saya terakhir kali di rumah Almarhum Kakek. Sayang sekali, ketika kami tiba, Nenek saya sedang keluar—ada halal bil halal di masjid kampung—Silaturahim-nya tidak nuntas. Jadilah, kami hanya menziarahi kubur Kakek dan Nenek saya lain—iya, nenek saya banyak sekali.
Tapi saya bersedih bukan  karena itu—bukan karena tidak bisa bertemu Nenek—saya bersedih karena hal lain. Sesuatu yang abstrak dan sedikit tragik. Tolong biarkan saya berlebay ria, kali ini saja.
Ada satu keuntungan yang saya keruk ketika saya masih berstatus sebagai mahasiswa, yaitu ada bagian dari diri saya yang berhasil menemukan alasan agar tetap tertib di jalur aman sebagai dia yang sendiri. Di kosan, atau di bagian manapun saya menginjakkan kaki—sepanjang itu jauh dari rumah—saya selalu bisa mentalak ponsel saya, saya bahkan sanggup mematikan ponsel selama berhari-hari tanpa merasa perlu risau kalau-kalau ada yang mencari saya. Sebab di kampung orang, saya bertransformasi menjadi invisible girl yang tidak bakal bisa dilacak memakai radar jenis apapun. Saya punya bakat penyendiri yang luar biasa mumpuni—dan banyak mengorbankan orang lain—banyak orang kelimpungan mencari saya, tak jarang memendam kesal dan marah akibat ulah saya itu. Saya sadar ini tidak benar, tapi... ah sudahlah.
Di rumah, ceritanya menjadi berbeda. Kamu akan jarang menemukan saya tanpa ponsel tergenggam di tangan. Bisa jadi karena profesi baru saya sebagai p-e-n-g-a-n-g-g-u-r-a-n yang walhasil menyulap saya sebagai orang kurang kerjaan alias lebih banyak waktu kosong. Malangnya saya adalah si pemalas yang kapan dikasih waktu luang dikiiiiit saja, saya akan memanfaatkannya dengan semena-mena sampai bablas. Astagfirullah...
Sebaliknya, saya bisa berubah menjadi orang super sibuk yang bahkan bisa lupa makan dan mandi (huek) saking sibuknya. Contohnya, saya sibuk menikmati kemalasan saya misalnya (dikeplak-in pentungan). Tetapi, sekali lagi, akhir-akhir sekarang saya memiliki lebih banyak waktu kosongnya sehingga ruang untuk melamun yang enggak-enggak pun melebar dan mengancam kepolosan hati dan jiwa saya. Maksud saya, saya jadi sering galau-in cem-macem. Mulai dari soal pekerjaan sampai perkara jodoh.
Kalau ditanya kapan saya terakhir kali jatuh cinta, tanpa ragu saya akan menjawab; akhir duaribu sebelas dan benar-benar mencapai puncaknya sepanjang tahun duaribu dua belas. Saya jatuh cinta pada menulis dan dia yang mencintai buku-buku, sejarah dan kopi. Pria kurang ajar ini pula yang sukses menjungkirbalikkan konsep no pacaran, let’s enjoy my solitaire milik pribadi saya. Saya menjalani proses jatuh cinta, patah hati dan move on secara berkelanjutan. Andai bisa memilih, saya tidak ingin jatuh cinta jika sepanjang cerita berjalan saya-lah yang pihak yang menelan luka sendirian, meramu sendiri resep meredakan rindu dan menyembuhkan pedihnya berharap pada sesuatu yang saya sudah tahu, saya tidak akan pernah sanggup memilikinya sampe lebaran kodok datang. Jika ada jenis kehilangan atas sesuatu yang belum pernah kamu miliki, maka inilah wujudnya. Kamu memiliki perasaan sayang terhadap seseorang, dan di waktu hampir bersamaan kamu harus rela kehilangan harapan menyandingkan dua hati di singgasana yang setara. Benarkah mencintai seseorang selalu dibarengi rasa ingin memiliki atau setidaknya respon yang diberikan harus setimpal dengan kadar perasaan kita? Entah. Dua kali saya mengalami apa yang disebut orang jatuh cinta dan dua kali pula saya mengalami hal yang sama—berharap balasan. Dan ini jelas-jelas semu. Akan selalu ada aroma luka menjalar-jalar kasatmata nun jauh di sana, bersiap memanaskan sel-sel di matamu dan kamu dibikin menangis di malam-malam hening, jika yang kamu harapkan tidak kesampaian.
Ada seseorang yang datang kembali mengusik ketenangan saya. Seseorang yang pernah saya lukai. Seseorang yang punya hak membenci saya sebanyak yang dia mau. Tapi dia tidak melakukan itu. Sampai detik ini, saya dan dia masih berhubungan baik. Tidak ada ikrar baik antara saya dan dia untuk kembali menjalin sesuatu yang pernah saya putuskan sepihak dulu walau teraba jelas interaksi saya dan dia agak merepet ke sana. Inilah yang barangkali menjadi pusat kegamangan saya. Ada perasaan takut, saya takut menjejaki kembali satu hal yang sudah saya tinggalkan. Saya tidak ingin kembali ke sana. Solitaire, saya masih ingin setia dengan kamu. Itu saja.
Untungnya, saya dan dia paham batas-batas yang tidak bisa kami seberangi.
Untuk memastikan bagaimana seutuhnya perasaan saya terhadap dia, saya tidak tahu harus bagaimana. Kemarin, saya memutuskan untuk mengambil jarak. Bukan apa-apa, itu upaya saya untuk menghargainya.
Anehnya, saya tidak merasa kehilangan apa-apa.
P.s : Saya barusan ngecek kalender, woooops periode saya udah deket. Pantesan rada sensitif. Oya, saya ingin cepat-cepat punya kesibukan supaya pikiran liar saya punya juntrungan ke mana dia harus dikandangkan LOL.


Minggu, 12 Juli 2015

Untitled


“... Everybody screaming, I try to make a sound but no one hears me...”
-Simple Plan/Untitled
Pernah gak kamu ngerasain kayak gini? Kamu seperti ditenggelamkan kebisingan sekitar sementara nun jauh di dalam hatimu, kesepian justru semakin menggenapkan kehadirannya di sana.
Dulu. Dulu sekali, saya selalu berpikir di dunia yang hanya selebar daun kelor ini, hanya saya yang mengalaminya—masa-masa paling sunyi dan muram yang pernah saya lalui—ada saat saya tertawa  tapi di dalam hati saya menangis diam-diam, atau ketika saya bertemu teman-teman lalu terlibat interaksi dan jujur saja pertemuan demi pertemuan tersebut tidak terserap manis di benak dan hati saya. Ya—saya merasa selalu kosong. Selalu ada satu titik penemuan yang entah apa, meneguhkan keyakinan saya agar terus mencari apa itu.
Maka menjelmalah saya sebagai si pembaca. Saya membaca apa saja yang tertangkap dan terekam mata dan pendengaran. Buku-buku, lagu-lagu, televisi, percakapan di jalan, di angkot, di pasar, di rumah sakit, di bank, di kampus, di halte bus—di mana pun saya menjejakkan kaki.
Membaca manusia. Itulah yang coba saya lakukan. Menyelami dan mengkaji tingkah polah manusia dari berbagai macam sudut pandang. Sesuatu terjadi pasti ada alasannya. Si Fulan berbuat ini, pasti ada motif yang memicunya melakukan itu.
Saya lantas tidak bermaksud sok tahu dengan segala-galanya.
Bagi saya, dengan melakukan ini saya menganggap diri saya sedang melakukan perjalanan spiritualnya dengan cara paling sederhana. Mengenal manusia—makhluk ciptaan Allah yang dengan segera akan mempertemukan saya Sang Maha Pemilik. Dengan mengenal manusia, itu sama halnya dengan mengenal titik terdalam diri saya sendiri. Karena dengan ini, saya akhirnya menyadari betapa banyak kesalahan dan kekhilafan yang telah saya perbuat.
Setiap orang ingin menjadi lebih baik dari menit ke menit, dari hari ke hari. Saya pun demikian adanya. Walaupun untuk menuju ke sana, kita dituntut untuk rela kehilangan banyak hal. Contoh dekatnya, kita harus merelakan kebiasaan-kebiasaan jelek yang tanpa kita sadari telah mendarah-daging dalam diri. Bukan sesuatu yang mudah mengubah persepsi negatif ke persepsi positif. Gak segampang bagaimana Om Mario Teguh menjejali telinga kita dengan kalimat-kalimat morivasinya yang zzzuuuppeer itu. Dan kita pun menyambutnya sendu sambil manggut-manggut mengaminkan. Lalu tibalah saatnya kita kembali ke dunia nyata—terjun langsung ke medan pertempuran—di mana satu-satunya lawan yang harus dihadapi adalah tak lain diri kita sendiri.
Okelah, kita memang butuh angsuran motivasi dari orang lain. Akan tetapi akhirnya pada kitalah kembalinya satu keputusan penting apakah kita mau berubah atau tidak.
Berapa banyak dari kita yang masih gagal bangun pagi, melewatkan shalat subuh, menulikan telinga dari panggilan menghadap Tuhan? Sembari pada waktu lain kita muncrat berkata-kata soal kedisiplan bla bla bla... Berapa banyak dari kita yang masih merasa memegang kebenaran atas sesuatu—gontok-gontokkan pake paragraf-paragraf makian di medsos—dan entah lupa atau memang dasarnya egois dan emoh menerima kekalahan, terus saja menggelontorkan argumentasi basi yang terdengar lucu di telinga anak TK. Belakangan ini kita menjadi saksi hidup bagaimana orang-orang—bahkan mungkin termasuk diri kita—yang mengaku orang dewasa terjebak dalam lingkaran setan yang dipenuhi kebencian.
“Kamu tidak setuju dengan saya berarti kamu musuh saya dan saya berhak menghakimi kamu seenak udel dan seperlunya saya.”
Yap. Seolah ada aturan tak tertulis bahwa kalau saya tidak memilih kanan maka saya adalah pihak kiri. Saya gagal memahami atraksi teman-teman saya di medsos akhir-akhir ini. Apa yang sebenarnya kita bela? Benarkah kita membela apa yang kita labeli kebenaran dan kebaikan? Ataukah yang kita bela justru keegoisan kita sendiri?
Mengubah kebiasaan buruk seumpama membunuh satu sisi dirimu yang selama ini kamu sayangi sepenuh hati, yang kamu akrabi dan peluk sepanjang waktu. Kenapa ya, dosa terasa nikmat dan kebaikan terlalu sulit ditempuh?
Membaca manusia kian membuat saya terpekur. Saya tidak tahu harus memulai dari mana agar bisa menebus apa yang pernah saya kerjakan. Saya mengalami langsung betapa sulitnya menangangi kekeraskepala-an diri saya sendiri, mencoba memahami jalan pikiran orang lain—nggak usah jauh-jauh ngambil sampel, memahami saudara kandung saya sendiri sulitnya minta ampun. Lebih banyak makan ati-nya ketimbang senengnya. Belum lagi orang lain di luar rumah saya?
Sampai di sini, saya masih belum bisa mengaplikasikan apa yang pernah dikatakan ibu salah satu teman saya bahwa satu-satunya tips agar bisa hidup tenang dan bahagia adalah dengan ikhlas. Mengikhlaskan semua kejadian yang menimpa kita.
Akhir-akhir ini juga, saya banyak menitikkan air mata tanpa sadar. Saya malu sama Allah. Tak terhitung berapa banyak kali saya mengkhianati dan menjauhkan diri dari Allah namun hingga detik ini Allah masih belum membuka aib saya kepada orang lain, sedangkan saya begitu rapi membentangkan kesalahan demi kesalahan yang pernah orang lain perbuat terhadap saya, sulit sekali meluruskan dan meluluskan kata maaf.
Saya masih berusaha menemukan apa yang saya cari dengan cara membaca manusia atau apalah namanya. Sungguh, saya cemburu melihat bagaimana orang lain begitu khidmat mencintai Tuhan-nya. Saya ingin sekali seperti mereka. Mungkin dosa-dosa saya terlampau menggunung sehingga menghalangi pandangan saya sehingga yang perlu saya lakukan adalah mengikis gunung itu sedikit demi sedikit, hati-hati, sabar dan tabah....
Semoga jalan pulang untuk saya belum tertutup....
Teruntuk kalian yang pernah tersakiti oleh saya secara sadar dan tidak sadar, izinkan saya meminta maaf, tolong berikan saya maaf yang ikhlas serta doakan saya semoga saya istiqamah dalam pencarian saya ini... 
Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.
Dan alhamdulillah, dalam situasi dan kondisi apapun, saya selalu mengusahakan menempuh bahagia akhir-akhir ini. Sepi yang saya rasa bukan lagi kekosongan yang menyakitkan lagi sendu.


Senin, 29 Juni 2015

Dear Kamu

Dear kamu yang inisialnya masih dirahasiakan Allah,
Setelah berpikir dan menimbang banyak hal saya akhirnya memutuskan menulis surat tanpa judul ini. Kamu tahu sendiri kan, jika sudah menyangkut berbicara empat mata, saya selalu gagal. Maka menulis adalah satu-satunya cara paling ampuh untuk berkomunikasi dengan kamu dan siapa saja yang saya kenal.
 Saya tidak mau memungkiri bahwa selepas wisuda ada dua hal yang selalu merisaukan pikiran saya. Urusan pekerjaan dan menikah.
Menikah.
Iya, menikah.
Di awal usia puluh, saya pernah berandai-andai ingin menikah pada usia duapuluh enam. Pun kepada teman-teman, saya selalu menceritakan keinginan saya yang satu itu.
Beberapa bulan lagi, tepatnya di penghujung November, saya genap berusia duapuluh enam. Dan saya belum melakukan pencapaian apa-apa dalam banyak hal yang saya rencanakan. Rasanya target menikah juga semakin jauh dalam angan saya. Entahlah, saya tidak merasa harus terburu-buru. Di lain sisi, saya menentang keras ikatan pacaran. I’m single and I’m very happy. Soal menikah, secara psikis dan emosional, saya belum siap. Begitu juga dalam urusan finansial. Akan tetapi jika saya terus-menerus berpatokan pada dua hal tersebut, maka saya akan sulit menikah. Sejujurnya, ada ketakutan besar dalam diri saya. Anggaplah ini sebagai akumulusi ketakutan demi ketakutan yang tanpa sengaja dikumpulkan sel-sel otak saya sejak kecil hingga menjelang dewasa, dalam kumparan ingatan yang mengikuti saya ke mana pun kaki saya melangkah. Jika saya menikah kelak, saya takut akan mengalami hal yang pernah dialami  ibu saya. Saya tidak ingin anak-anak saya mengalami apa yang saya pernah alami. Saya tidak ingin mereka tumbuh dalam lingkungan yang membuat jiwa mereka kerdil dan kehilangan pegangan dan panutan. Ah, belum apa-apa, saya sudah berpikir macam-macam. Dan beginilah saya. Si pemikir yang kadang suka ribet sendiri dengan hasil pikirannya.
Menikah hanya sekali sepanjang hayat.
Saya rasa, setiap perempuan menginginkan hal ini. Tidak ada perempuan yang ingin gagal dalam berumah tangga. Demikian pula saya.
Mungkin, tersebab hal-hal tersebut sehingga saya begitu hati-hati menyebut satu kata ini; menikah. Seringkali menjelang tidur, selepas shalat lima waktu, atau saat sendiri di kamar, saya teringat dan seketika sekujur tubuh saya mendadak dingin, gugup dan blank. Separah inikah traumatis tumbuh dalam diri saya? Saya berangkat dari keluarga yang nyaris hancur. Alhamdulillah Allah menyelamatkan kami. Tapi bayangan-bayangan buruk yang terekam dengan sempurna oleh otak saya, tidak mau hilang. Mengendap, menjadi racun yang mengerikan. Menumbuh suburkan kekhawatiran demi kekhawatiran.
Jika kamu membaca surat tanpa judul ini, saya hanya ingin kamu tahu saya tidak pernah menuntut kamu menjadi sosok tanpa cela karena kita bukan malaikat. Bagi saya, terlepas dari banyak tetek-bengek syarat-syarat soal sosok ideal seorang suami, nomor satu adalah agama. Seorang imam yang bijaksana dan bertanggungjawab. Kepada siapa anak-anak saya kelak belajar dasar-dasar akidah dan agamanya jika bukan kepada kedua orangtuanya? Saya tidak menuntut seseorang yang hapal 30 juz, atau hapalan hadis yang banyak, paling tidak shalat lima waktu yang konsisten. Seorang laki-laki yang menyayangi ibunya, keluarga dan sosialnya baik. Dan saya benci asap rokok hehe.
Kata ibu saya, saya ini orangnya keras kepala—darah Bapak begitu kental mengaliri darah saya—semoga kamu tidak keras kepala seperti saya.
Orang-orang bilang, jodohmu adalah cerminan dirimu. Maka saya pun sedang berusaha memantaskan diri agar jodoh yang ditakdirkan Allah untuk saya sesuai dengan potongan kalimat ini, “perempuan-perempuan baik untuk laki-laki yang baik pula”. Manalah masuk akal bila saya sebagai perempuan menginginkan jodoh yang baik sedang saya sendiri tidak mengusahakan diri saya menjadi pribadi yang pantas untuk dijadikan istri? Tidak tahu malu doooong namanya. Sepertinya langkah saya masih terlampau jauh ya :D
Jikapun saya dan kamu tidak berjodoh, saya berdoa dengan sungguh-sungguh, semoga Allah memberimu jodoh yang baik pula.

Sincerely, me.

Rabu, 06 Mei 2015

Surat Untuk Hati #1

26 April 2015
Jarum jam menunjukkan sudah lewat pukul 12, lima menit menuju satu malam. Mata saya belum menampakkan tanda-tanda mengantuk. Padahal seharusnya saya kelelahan—dengan kata lain akan membuat saya cepat didatangi kantuk—sehabis membereskan kamar yang berantakan. Tapi nyatanya tidak sama sekali. Sejak bergiat mengejar penyelesaian tugas akhir awal tahun ini, pola makan dan tidur saya memang agak berantakan—sangat berantakan—seperti sudah menjadi kebiasaan. Saya menderita insomnia parah, makan terkadang sehari sekali doang tergantung daya ingat saya dan parahnya, saya pelupa.
Ah sudahlah, kita tinggalkan di belakang curhat berkaitan tugas akhir saya yang Alhamdulillah sudah selesai, hanya tinggal menantikan wisuda awal Mei depan.
Saya ingin bercerita yang ringan-ringan saja.
Omong-omong, ini postingan pertama saya setelah mengganti url dan nama blog ini. Sebenarnya, saya pernah berniat men-delete blog Rumah Angin ini. Saya merasa isi blog kebanyakan curhatan dan aib-aib yang semestinya tidak perlu saya publikasikan melalui media sosial. Dan saya benar-benar pernah men-delete Rumah Angin. Peraturan Om Google, blog yang telah dihapus masih bisa di-aktifkan kembali tiga bulan atau 90 hari setelah proses penghapusan dilakukan. Lewat dari itu, penghapusan resmi terjadi. Dua bulan setelah menghapus, saya memutuskan membatalkannya. Salah satu pertimbangan saya adalah, ada beberapa tulisan saya yang bagi saya sangat berharga dan sayang untuk saya hapus.
Tentang entri yang erat hubungannya dengan lingkungan kehidupan saya, saya hanya perlu menerima bahwa saya pernah melewati masa-masa yang mungkin bagi sebagian orang cuma perkara sepele tetapi bagi saya justru sanggup menyita waktu saya sekadar untuk mendamaikan hati. Sekali lagi, saya bukan orang yang cukup terlatih untuk bilang saya baik-baik saja kepada orang-orang yang mengenal saya. Nyatanya, saat sendirian saya berubah menjadi sosok yang berkebalikan dari yang terlihat. Barangkali setiap orang memang seperti itu, selalu ada yang tidak bisa diceritakan kepada yang lain.
Ada dua hal yang saya ingat betul pernah menjungkirbalikkan ketenangan dan ketegaran saya, ibarat seeorang yang sudah babak belur dipukuli tapi masih dihajar sampai tidak berdaya, untuk bergerak pun tidak bisa. Hingga akhirnya saya mencurahkannya melalui postingan demi postingan di blog ini. Saya khawatir bila tidak mengeluarkannya maka kesehatan hati dan pikiran saya akan semakin buruk lalu kolaps. Gelap. Pekat. Dan setan akan berpesta pora menyambut kejatuhan saya. Di waktu-waktu yang terasa berat itu saya tidak cukup berani dan percaya pada orang-orang di dekat saya.
Menulis menolong saya menemukan ketenangan meski bukan seutuhnya.
Pertama, Bapak.
Saya dan Bapak memiliki hubungan aneh. Saya teringat betapa asingnya saya dan Bapak dulu. Dulu sekali, ketika saya masih belum bisa mengontrol emosi dengan baik. Kemarahan dan kekecewaan memenuhi ingatan saya tentang Bapak. Saya tidak menemukan tipe ayah ideal pada beliau. Memasuki usia duapuluh dan bertahun-tahun kemudian saya tinggal terpisah jauh dari rumah karena urusan kuliah tidak lantas mengubah hubungan saya dan beliau menjadi hangat. Ada beberapa  jeda waktu yang saya kira bisa menjembatani kami namun kenyataannya jauh dari harapan. Semakin saya coba berusaha menjadi anak baik, berbanding lurus dengan semakin besar kekecewaan yang saya telan. Seolah-olah hanya ada satu pihak yang menginginkan damai. Itu saya. Begitulah kesimpulan yang tertanam subur di benak saya, menjelma racun yang pelan-pelan meninggikan tembok antara saya dan Bapak.
Lalu tibalah satu waktu yang sukses meruntuhkan seluruh hipotesa saya.
Malam itu, entah keberanian dari mana, saya menelpon Bapak. Hati saya sedang luar biasa rusuhnya. Pusing dengan Draft Hasil Penelitian dan perkara lain. Saya tiba-tiba merindukan Bapak. Detik itu yang terbesit di kepala saya hanya, ‘saya ingin minta maaf’, seperti itu. Dan saya benar-benar meminta maaf dari beliau. Sekuat hati saya menahan agar air mata saya tidak jatuh. Saya sampaikan apa yang telah membuat saya memendam amarah hingga dua puluh tahun lamanya. Kami benar-benar serupa. Dua orang yang tidak bisa mengekspresikan warna emosi. Bapak menimpali saya dengan bercanda begitupun saya—saya sadar setelah malam itu, tidak akan ada lagi tembok yang akan menghalangi saya dan Bapak—damai.
Kesadaran saya membulat. Bahwa bertahun-tahun saya membenamkan diri dalam kubangan egoisme yang sangat kental. Tidak saja kepada Bapak, namun juga kepada tiga adik-adik saya dan perempuan yang saya kasihi sepenuh hati—Ibu. Saya tidak pernah menyempatkan sejenak melongok ke arah Bapak. Benar-benar menolehkan kepala dan mengamatinya lebih lekat lebih dekat. Benarkah Bapak tidak pernah berusaha mendekati kami? Saya abai melihat betapa sepi-nya dunia beliau. Bahwa apa yang membentuknya di masa sekarang merupakan imbas masa lalu yang mungkin saja tidak sesuai harapannya. Saya lupa bagaimana beliau memprotes bernada cemburu ketika saya dan adik-adik saya yang akhirnya mengikut kuliah di kota seberang hanya menelepon Ibu, dan jarang menghubungi ponsel beliau. Saya dengan cepat melupakan ungkapan kebahagiaan beliau menjelang kepulangan kami ke rumah pada libur lebaran. Sungguh, setan punya jurus kamuflase jitu yang akan menyesatkanmu nun jauh ke dalam jelaga yang akan menghitamkan hatimu—amarah.
Ah. Bapak.
Mengingat waktu-waktu itu, air mata saya jatuh lagi. Ini perjalanan panjang untuk mengenali wajah-wajah kita. Wajah Bapak. Wajah saya. Wajah kerinduan seorang kanak-kanak kepada bapaknya yang ingin dia cintai setulus hati.
Ada sirat kebanggaan di wajah Bapak tatkala menceritakan pada teman-teman beliau. “ Anak saya sudah sarjana…”
Maafkan saya telah membuat Bapak menunggu lama untuk menyambut uluran tangan damai itu. Kesalahan terbesar saya adalah diam, memendam kemarahan dan berharap Bapak menyadarinya. Saya-lah yang memegang andil besar pada komunikasi sepihak yang berjalan limbung itu. Seringkali manusia salah mengambil sikap, seolah orang lain bisa transparan membaca keinginannya dan berharap pengertian. Yang akhirnya menimbulkan prasangka aneka macam jika kenyataan tidak berjalan seperti keinginan.
Bicaralah agar orang mengerti.
Setelah sidang skripsi Februari kemarin, saya pulang ke rumah. Saya bercerita banyak pada Bapak. Tentang apa saja.
Kedua, cinta platonik berhasil menjatuhkan saya. Telak. Saya paham dan sangat tahu saya berada dalam posisi yang tidak membolehkan saya menerjunkan diri ke sebuah hubungan yang tidak semestinya. Sebab itulah proses move on saya terasa berat. Dijatuhkan cinta pada seseorang bisa sangat melelahkan dan menyakitkan, tetapi di sisi lain akan mempertemukanmu dengan macam-macam pengalaman emosional. Namanya saja jatuh, pasti ada sakitnya.
Saya tidak akan malu mengakui, saya pernah sangat menyukai seseorang dan berhasil berdamai dengan perasaan asing itu. Butuh waktu memang, namun hasilnya cukup memuaskan. Terhitung setelah saya sukses move on, saya belum jatuh cinta lagi. Setidaknya doa saya kepada Tuhan agar jangan dijatuhkan cinta sebelum datang waktu yang tepat, dikabulkan.
Dan jejak cinta saya bisa ditemukan di blog ini.
Saat ini, Alhamdulillah kondisi emosional saya jauh lebih stabil. Saya belum pernah selega ini.
Saya mengurungkan niat menghapus blog ini. Saya hanya mengganti alamat url dan nama. Adapun postingan-postingan bernada curhat dan aib, saya menganggapnya masa lalu yang pada potongan-potongan kenangan tersebut, saya belajar menjadi pribadi yang semoga jauh lebih baik lagi dan lagi besok, dan seterusnya. Insya Allah…
Jika saya merasa malu dengan masa lalu saya yang tidak menyenangkan, maka yang seharusnya saya lakukan adalah berjanji untuk tidak mengulanginya, bukan? Hm… Tetapi, siapa yang bisa mengomandoi hati untuk jangan atau jatuh cintalah pada seseorang? Kapan dan kepada siapa? Jatuh cinta bukan kesalahan, dan baru akan menjadi kesalahan bila diteruskan ke muara yang biasa disebut—pacaran. Setidaknya, itulah yang saya percayai.
Selamat berbahagia,
-Love-

@Kaliandrabayu        

Minggu, 16 November 2014

Di Pagi Begini

Pagi begini, ada setangkup doa dari masa lalu yang masih bernapas. Ada rindu yang mengintai dari bilah-bilah rerumputan pagi dan embun yang masih perawan, belum tersentuh matahari. Aku berdiri di sisi jalan lengang. Tidak ada sesiapa di sana, hanya cericit burung-burung pemuja pagi terdengar di kejauhan. Kupunguti sisa-sisa kenangan dari lintasan bernama waktu. Pahit dan manisnya membangkitkan takjub. Sesakit apapun, nyatanya tidak sanggup membunuhku.

Di pagi begini, kulontarkan baitbait pengharapan kepada Tuhan.
Walaupun aku tidak selalu berada dalam situasi yang searah jalan Cinta-Nya...
Terkadang alpa mengeja nama-Nya di setiap jejak kakiku,
Walaupun aku masih terlampau sering sadar tidak sadar, menghadirkan banyak alasan untuk hal-hal baik yang sengaja kutinggalkan begitu saja...
Di pagi begini, aku akan (selalu) meminta kelapangan hati agar aku tahu bagaimana rasanya bahagia sehabis menaklukan ego sendiri.

Aku ingin mati membawa bahagia dan tidak meninggalkan petaka.

Di pagi begini, di antara sapuan warna-warna langit yang indah, aku percaya ada malaikat-malaikat yang akan mengantarkan doadoaku kepada Tuhan.

Di pagi begini, di pagi-pagi lainnya, esok dan esoknya lagi... Semoga aku masih bisa menyapa langit dengan syukur yang tidak pernah mati.

Sabtu, 15 November 2014

[Random] Kontemplasi

Kenapa seseorang memilih menutup hatinya dan tidak membiarkan orang lain membuka dan masuk ke dalam? Ada banyak alasan. Mungkin dia pernah melewati masa di mana dia berkali-kali menelan kekecewaan karena terlalu percaya pada orang selain dirinya. Di kesempatan berikutnya, dia kehilangan keberanian untuk percaya barang secuil saja. Dia takut terluka dan menganggap tidak ada yang bisa lebih dipercaya kecuali dirinya sendiri. Yang seperti ini sudah mendekati tahap kritis :) *kayak familiar yah*

Alangkah melegakkannya bagi dia yang selalu punya bahu untuk melarikan tangisnya, ada telinga yang siap sedia 7/24 mendengarkan cerita-ceritanya, ada senyum tulus yang tidak pernah alpa menyapanya jika sewaktu-waktu Ia terpeleset di jalan yang salah. Dan bagi dia yang tidak punya sesiapa untuk menyandarkan diri, bukan berarti dia tidak berarti apa-apa. Tuhan punya cara keren untuk menunjukkan betapa beruntungnya dia melewati hari-hari sulit itu sendirian. 

Dia yang mencerna kepahitan satu-persatu dalam keheningan. Suatu hari dibikin tercenung. Merenung mendapati kenyataan hal-hal buruk yang dihadapinya tidak lebih buruk dari orang lain. Terbesit syukur, ia jauh lebih beruntung. Untuk urusan kesulitan dan masalah hidup, tidak tepat bila saling membandingkan milik siapa yang lebih berat lantas menggunakannya sebagai alasan melarikan diri pada hal-hal buruk sebagai bentuk protes terhadap entah... Tuhan. barangkali.

Bahagia itu (bisa sangat) sederhana. Takaran kebahagiaan masing-masing kepala berbeda satu sama lain. Tinggal sejauh mana mensyukurinya.

Ada satu dorama Jepang ber-genre medikal yang sangat saya sukai. Judulnya Code Blue. Saya ingat Dr. Aizawa Kosaku, salah satu tokoh utama di dorama itu pernah berkata kurang lebih begini, dengan memahami kesedihan diri sendiri, maka kita akan semakin peka melihat kesedihan orang lain. Itulah yang terjadi pada saya.

Mungkin melalui cara itu, kita bisa menemukan jalan pulang menuju maaf seutuhnya untuk waktu-waktu beserta orang-orang yang sudah berjasa memberikan kita kesedihan sedemikian rupa.

Kapan saya merasa benar-benar bahagia?
Ada satu moment yang bisa bikin airmata saya terjun bebas; ketika saya bisa berbuat baik kepada orang-orang yang saya jumpai di jalan, ketika saya tahu bahwa kehadiran saya bisa memberikan kelegaan bagi yang lain.

Saya tidak punya bakat spesial, saya juga tidak pintar, tapi saya berharap suatu saat dengan segala keterbatasan dan kelebihan yang saya miliki, saya bisa melakukan kebaikan sekecil apapun itu untuk menolong orang lain yang sangat membutuhkan. 

Sejujurnya, saya sudah tiba di tahap jika memang sudah jalannya begini, biarkanlah. Dan saya memilih terus melangkah. Semoga Allah memaafkan sederet kekhilafan yang pernah saya lakukan, senantiasa menjaga saya dari hal-hal yang akan menjauhkan saya dari-Nya. Lalu untuk kedua orangtua saya, saya berjalan sejauh ini untuk memahami tentang apa dan mengapa jarak terasa jauh lebih mendamaikan daripada pertemuan itu sendiri. Saya menunggu waktu yang tepat untuk menumpahkan seluruh rekaman masa lalu di kepala saya ini, hanya agar kalian tahu, saya tidak pernah benar-benar membenci apalagi menyalahkan. Selalu ada alasan di balik setiap kejadian. Pun perkara kita.  

Lagi dan lagi, tidak ada yang lebih tahu apa yang saya inginkan selain diri saya sendiri. Tidak ada yang bisa menenangkan saya selain diri saya sendiri dan campur tangan Allah. Belajar menjadi pribadi yang hatinya lapang itu tidak mudah, tapi bukan berarti tidak bisa, kan? Butuh waktu dan keistiqamahan. :)

[NovemberWish] #2 GADO-GADO


Nope. Saya tidak akan membahas keinginan makan gado-gado pada postingan kali ini. Kenapa judulnya seperti jenis makanan yang merupakan campuran bermacam sayuran dan lontong itu? Karena isi postingan saya isinya kayak gado-gado. Buanyaaak yang ingin saya ceritakan hehehe. So, Anggap saja ini refleksi yang saya lakukan setelah menerima kabar gembira dua bulan berturut-turut ini.
Saya pertama kali menulis cerpen saat duduk di kelas dua Madrasah Tsanawiyah. Entah di mana rimbanya cerpen itu. Mungkin turut hilang bersama renovasi rumah bertahun-tahun lalu. Yang saya ingat dari cerpen itu adalah tokoh utama cowoknya bernama Sandy dan inti ceritanya tentang cewek kuper yang jatuh cinta pada sosok kakak kelas tampan di sekolahnya. Pwahahahaha. Ngakak. Cerpen itu saya tulis manual di atas sobekan buku pelajaran. Saya tidak terlalu ingat dengan jelas apa yang memotivasi saya menulis fiksi. Keinginan itu timbul barangkali akibat kesukaan saya membaca buku/novel/majalah apa saja yang saya temukan. Di usia saya yang masih butuh bimbingan mengenai buku apa saja yang boleh dan tidak boleh saya baca, saya melahap bacaan apapun itu. Tanpa pengawasan. Sebab orang-orang di sekitar saya sudah terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing. Sedang saya harus menemukan cara positif agar tetap waras. Dan buku adalah jawabannya.
Beranjak dari buku-buku, saya pun sering—terlalu sering—mengkhayal. Seperti membuat film-film yang storyline beserta tokoh-tokohnya saya bikin sendiri. Tidak jarang saya menangis kalau film di dalam kepala saya berakhir tragis LOL.
Kala itu, saya tidak punya satupun koleksi buku/novel/majalah pribadi. Saya tinggal di sebuah kecamatan kecil di Pulau Kabaena yang termasuk dalam wilayah administrasi Buton (setelah melalui pemekaran kini Kabaena masuk dalam wilayah Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara). Tidak ada ponsel, tidak ada akses internet, listrik pun hanya menyala di malam hari. Tahun 2003 belum ada yang namanya komputer di sana. Kalaupun ada, hanya satu-dua orang yang memilikinya. Lanjut cerita, saya mendapatkan buku bacaan dari perpustakaan sekolah (SD), milik Kakek saya yang semasa muda dulu pernah bekerja sebagai wartawan di kota, ada juga koleksi buku-buku Nenek saya yang saya panggil Nenek Raha (adik Kakek) yang kembali ke kampung setelah pensiun dari posisinya sebagai Kepala TK di Raha. Ketika memasuki bangku SMA, saya banyak membaca buku-buku berkualitas hasil pinjam dari kakak-kakak senior yang menempuh kuliah di ibukota provinsi. Saya harus mengakui bahwa imbas dari bacaan-bacaan semasa SMA-lah yang banyak mempengaruhi perkembangan pola pikir saya. Tentu saja ke arah yang lebih baik.
Proses menulis yang saya lalui sejak 2003 hingga tamat SMU ditutup dengan sebuah hadiah kecil. Saya memenangkan posisi pertama lomba menulis cerpen yang dalam rangka PENSI tahunan sekolah. Itu honor pertama yang saya terima. Sungguh, rasanya bahagia. Ada optimisme bahwa saya bisa memperjuangkan keinginan saya menjadi penulis. Dan tahukah, berapa cerpen yang saya hasilkan dalam rentan waktu itu? Buanyaaaaaakkk! Iya. Banyak yang nanggung alias tidak selesai. Kata lainnya, tidak menemui ending. Tidak terhitung juga ada berapa banyak buku pelajaran saya yang jadi korban. Ibu saya hanya bisa geleng-geleng kepala setiap kali masuk ke kamar dan mendapati gulungan-gulungan kertas berserakan di sana-sini. Sesekali ibu saya ngomel. Kamu kira harga buku murah? *Maapin anakmu, Ibu…*
Yang kasihan itu adik perempuan saya yang pertama, dia beberapa kali pernah iseng nyuri-nyuri kesempatan membaca cerpen saya yang masih dalam proses penyelesaian. Ujung-ujungnya saya tidak pernah menyelesaikannya dan adik saya—Cully—menahan kedongkolan dibuat penasaran ending ceritanya. Siapa juga yang nyuruh baca? Jeleknya, saya jamin tidak akan pernah bisa menyelesaikan cerita yang saya tulis kalau dibaca orang lain dalam proses penulisannya.
Saya juga pernah melewati apa yang dibilang susah memulai cerita, menentukan nama tokoh, membuat dialog, membuat ending yang kece badai, frustasi kenapa cerita yang saya bikin selalu menggantung. Pertanyaan, ‘kenapa orang lain bisa menulis kisah yang bagus dan saya tidak bisa?’ tak terhitung lagi berapa kali terlontar dari alam bawah sadar saya.
Saya tidak memiliki teman yang bisa saya tanyai mengenai kepenulisan, maka tidak ada pilihan kecuali melakukannya dengan otodidak. Belajar sendiri. Bila dulu saya membaca untuk menikmati kisahnya, layaknya menonton film, pelan-pelan saya melatih diri mengamati dan mempelajari bagaimana seorang penulis mengarahkan kisah yang dituangnya dalam bentuk paragraf-paragraf panjang itu, bagaimana penggunaan EYD-nya dan lain-lain yang menyangkut penulisan cerita. Dari situ, saya mengenal banyak style penulis seperti Om Donatus A. Nughroho, Gol A Gong, S. Gegge Mappangewa (sukaaaa banget cerpen-cerpen beliau di Aneka Yess!), Asma Nadia dll. Jujur saya akui, di awal-awal saya sangat kebingungan dengan pola bercerita saya sendiri. Saya banyak meniru. Itulah yang dinamakan pencarian. Saya harus melaluinya agar bisa menemukan style saya sendiri.
Setamat SMU, saya mengambil kuliah di ibukota provinsi. Saya merasa mimpi saya semakin dekat. Di kota ini, saya bertemu computer dan internet. Percayakah kalau saya bilang, saya baru belajar mengetik di komputer ketika kuliah itu. Saya bela-belain duduk di warnet berjam-jam demi untuk tahu bagaimana cara membuat email, friendster, blog dll. Hal-hal baru yang belum pernah saya temui semasa saya di kampung.
Memasuki tahun kedua kuliah, saya memberanikan diri mengirim cerpen ke majalah remaja. Alhamdulillah ditolak. Saya tidak lantas menyerah, saya pikir memang tulisan saya masih butuh perbaikan di sana-sini.
Memasuki tahun 2010, saya mulai aktif menggunakan facebook. Niat awal saya membuat akun sebenarnya tidak jauh-jauh dari kepenulisan. Saya meng-add banyak penulis yang saya kenal karya-karyanya, juga rekan-rekan yang punya kecendrungan yang sama—menulis fikis—seperti saya. Saya yang aslinya lumayan pendiam dan pemalu ini pun mulai membiasakan diri menyapa dan mengajak kenalan banyak orang. Di tahun tersebut sedang ramai-ramainya kompetisi menulis yang diadakan berbagai pihak. Saya juga turut mengikutinya. Terhitung beberapa kali karya saya lolos seleksi dan masuk antologi. Bahagia? Pastinya. Tingkat kepercayaan diri saya meningkat sekian centi xD
Adalah lomba UNSA (Untuk Sahabat) yang menjadi pembuka langkah saya. Dua tulisan saya masuk dalam Antologi. Disusul karya-karya lainnya di lomba yang berbeda. Ternyata saya bisa!
Ketika Kissing (Kisah Singkat) saya dimuat di majalah Story untuk pertama kalinya setelah melalui seleksi ketat, euphoria yang saya rasakan benar-benar luar biasa. Mungkin bagi orang lain biasa saja. Tetapi, bagi saya yang sering merasa rendah diri moment itu menjadi cambukan agar saya tidak menyerah.
Saya bisa kalau saya mau dan selanjutnya yang dibutuhkan adalah kerja keras, konsisten dan doa.
Saya menikmati tahun-tahun itu hingga memasuki 2013 hingga bulan Ramadhan di tahun selanjutnya, sesuatu yang menyedihkan terjadi—berhubungan dengan dunia nyata—membuat saya ambruk dari sisi emosional dan fisik. Ada yang hilang. Semangat menguap. Saya tidak pernah lagi menulis. Saya pun pelan-pelan menarik diri dari pergaulan dunia nyata dan dunia maya. Mencipta jarak sejauh mungkin dari orang-orang. Karya terakhir saya dimuat di GADIS edisi Januari dan sebuah Koran lokal di kota saya edisi Februari. Sesudahnya saya hilang. Saya bukanlah penulis produktif yang senantiasa menghasilkan karya setiap bulan. Adakalanya dalam sebulan saya tidak menulis apa-apa entah karena malas *slappingmyself* dan alasan lainnya. Akan tetapi, yang saya hadapi saat itu benar-benar sebuah kebuntuan yang sengaja saya pilih. Ditambah pula, saya merasakan ketidaknyamanan pada kenyataan bahwa teman-teman saya kadung mengetahui saya memilih menjadi penulis. Hanya karena karya-karya saya pernah dimuat majalah dan antologi, bukan berarti saya pantas menerima perlakuan yang menurut saya tidak berhak saya dapatkan karena saya pun sama dengan kebanyakan teman-teman yang lainnya, masih belajar. Saya tidak siap menerima beban berat dari pandangan-pandangan kagum orang-orang. Risih. Akhirnya, saya turut menarik diri dari sebuah organisasi kepenulisan, salah satunya karena alasan tersebut
 Saya memilih hiatus. Pilihan terbodoh yang pernah saya lakukan. Saya butuh ruang untuk menekuri kembali bagaimana saya hidup selama ini. Rasanya saya hanya berjalan di tempat yang sama bertahun-tahun tanpa beranjak ke tempat lain. Saya menelan banyak kekecewaan dan kesedihan. Di saat teman-teman saya sudah berjaya dengan pilihannya masing-masing, saya masih tersungkur. Partikel-partikel negatif membungkus rapat otak saya hingga membuat saya malas berpikir.
Up and down.
 Memasuki 2014, masih tetap begitu. Saya belum menulis apa-apa. Teman-teman seangkatan di dunia menulis sudah banyak yang menelurkan novel soliter-nya sedang saya, jangankan novel, cerpen saja tidak ada.
Saya adalah orang yang apabila sudah menyusun satu rencana terstruktur mengenai apa yang akan kerjakan, bila ada satu dari sekian rencana itu tidak terlaksana maka keseluruhan rangkaian rencana tersebut dipastikan carut-marut bahkan bisa gagal sama sekali. Agaknya itu berlaku pula pada sisi emosional saya. Bila satu elemen sedang kacau, imbasnya akan mengenai yang lainnya.
Sampai di sini, saya melupakan satu hal penting yang telah menjadi pegangan saya. Bahwa dengan menulis, saya melalui proses penyembuhan diri. Semua cerpen-cerpen yang saya buat, sedikit-banyaknya mengandung sisi nyata dari penulisnya. Pernah saya menulis cerpen sambil menangis karena kemarahan terhadap seseorang. Hasilnya, cerpen itu hampir 80% adalah curhatan dan dimuat!
Tamparan Allah bisa datang dari mana saja dari arah yang tidak terduga.
Suatu hari di bulan September 2014, saya menonton koleksi video VS dari boiben Korea yang saya suka (MBLAQ), video itu sudah berkali-kali saya rerun. Entah kenapa saat itu saya merasa ada sesuatu yang menggelitik pikiran saya. Satu kalimat dari Mir—salah satu member MBLAQ—membuat saya menghela napas panjang sesaat. Mir dikenal sebagai pribadi yang pekerja keras. Kadang-kadang saya berpikir dia ini bukan artis, sama saja dengan kita. Karena cara dia berinteraksi fans dan bagaimana dia tidak pernah sungkan bercerita dengan harapan-harapan serta ketakutan-ketakutannya sebagai artis. Menampakkan sisi manusia yang apa adanya, yang dibesarkan di sebuah perkampungan kecil di Korea Selatan sana.
Setiap orang sudah memiliki takdirnya masing-masing. –Mir of MBLAQ
Degh.
Dada saya sesak. Saya langsung beristigfar, menyebut-nyebut nama Allah, memanggil nama ibu dan bapak (yang jauh di seberang lautan sana). Lirih.
Benar. Setiap manusia sudah memiliki takdirnya masing-masing. Hanya tinggal bagaimana dia mencari, melakoni dan menerima takdirnya tersebut. Apa yang saya lakukan sebelumnya sama saja dengan menutup satu jalan menuju banyak kebaikan-kebaikan lainnya. Apa yang sudah saya lakukan untuk diri sendiri? Untuk orangtua dan adik-adik saya? Untuk keinginan-keinginan saya yang ingin bermanfaat bagi orang lain? Di usia saya yang sudah memasuki ¼ abad, buanyak waktu terbuang percuma. Saya mengaku sudah menerima apa yang sudah terjadi, namun kenyataannya saya belum se-ikhlas apa yang terlontar dari mulut saya. Sisa-sisa kemarahan dan kekecewaan yang bertumpuk rajin mencuri ketenangan hati saya.
Bentuk protes yang secara tidak sadar saya tampakkan, kalau tidak mau dibilang menyerah, menunjukkan bahwa saya—istigfar—tidak berprasangka baik pada Allah.
Malam itu juga, saya bertelepati dengan Allah. Saya ingin menulis lagi, mencoba peruntungan saya di majalah, disusul nazar lainnya. Karena hanya dengan menulis, saya bisa pelan-pelan menyembuhkan diri. Semangat itu datang lagi ^^
Saya menyelesaikan satu judul cerpen saat itu dan berhasil merevisi beberapa naskah cerpen nanggung di folder Rumah Angin. Dua hari kemudian, setelah melakukan self editing, cerpen-cerpen itu meluncur ke email majalan-majalah yang saya targetkan. Kali ini saya memilih menggunakan nama pena dan meninggalkan nama asli yang sudah saya pakai sejak 2010 ini.
Allah sungguh maha baik. Saya yang tidak tahu diri sudah terlalu sering membelakangi-NYA. Malu.
Tidak lama berselang, sekitar seminggu setelah saya mengirim cerpen ke majalah, surat cinta dari redaksi majalah HAI sukses menciptakan pagi yang indah untuk saya…. *taelaaaah lebai dikit ga papa yah*
Seperti biasa saya pasti gemeteran mendapat kabar pemuatan karya. Hamdalah berkali-kali, syukur sama Allah.
Allah menjawab doa saya… Allah selalu menjawab doa-doa saya…
Dua hari lalu satu lagi kabar menyenangkan datang dari redaksi fiksi majalah GADIS. Cerpen saya dimuat. Alhamdulillah… Terimakasih untuk Mbak Yulina Trihaningsih yang sudah berbaik hati mengabari saya :)
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” –QS. Ar-rahman
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” –QS. Al-Insyirah
Tidak ada jaminan bahwa saya tidak akan ambruk lagi tapi saya selalu berharap dan berdoa, saya tidak membelakangi Allah ketika masa-masa sulit yang membuat saya sulit bernapas itu datang menyapa saya. Karena hanya Allah satu-satunya tempat saya mengadu dan memperlihatkan kerapuhan saya sebagai makhluk fana. Semoga saya selalu tahu diri. Saya tetaplah Nafilah Nurdin yang terus belajar mengenali warna hatinya sendiri, sembari memperbaiki apa yang perlu dan harus diperbaiki.

Dan tentang menulis fiksi, saya tidak akan berhenti. Menulis adalah satu-satunya ruang bernapas yang saya nikmati sejak dulu. 

Minggu, 02 November 2014

[November Wish] #1

Saya baru menyadari betapa kesepiannya seorang Nafilah Nurdin….
Saya tidak sedang mengarahkan tiga jari saya ke diri sendiri, menyalahkan kenapa begini-begitu. Kenyataannya, saya yang memilih menjadi penyendiri, menutup akses orang lain untuk lebih dekat dan lebih memahami bagaimana seutuhnya saya. Membiarkan siapapun hanya bisa menerka dan meraba-raba seperti apa sebenarnya kepribadian orang yang sudah mereka anggap sebagai teman ini.
Saya sengaja mengunci diri.
Bukan tanpa alasan. Barangkali karena saya terlalu sensitif dan perasa sehingga sulit mempercayai orang lain. Ada perasaan tidak nyaman bila saya menyadari bahwa saya keceplosan membuka satu cerita tentang saya. Mungkin juga karena saya tidak percaya diri bahwa ada kok orang yang akan rela meminjamkan waktu dan telinganya untuk seluruh cerita-cerita saya yang kadang absurd, terlalu melankolis, lebay dll. Ada orang yang akan mendengar tanpa menyela atau memotong cerita saya dengan nasihat-nasihatnya. Ada masanya ketika seseorang hanya ingin didengarkan.
Kepala saya sudah sarat dengan banyak hal hingga membuat saya sulit memulai mengurainya satu persatu. Dan percayalah, saya sudah sangat tahu side effect urusan-urusan yang belum selesai di dalam kepala saya ini, saya tahu nilai kebenaran dan kesalahannya setelah melalui proses berpikir bertahun-tahun. Sekali lagi, saya ingin mengeluarkannya bukan meminta solusi. Ya itu tadi, saya belum menemukan seseorang yang hanya dengan menatap matanya, saya sudah tahu dia memang datang untuk saya. Yang dengan dia saya bisa bebas menangis, marah atau mengutuk.
Saya pernah merasa sudah menemukannya. Sekali. Di teman perjalanan yang baik. Semata baik. Karena satu kesalahan kecil, saya dan dia terpaksa memutus komunikasi. Semoga itu bukan salah satu keputusan terbodoh yang pernah saya ambil selama hidup.
Setahun belakangan ini saya benar-benar banyak menghabiskan waktu sendiri, menjauh dari keramaian. Sering melakukan kontemplasi, jatuh-bangun, menangis dan tertawa untuk lelucon yang entah. Sendirian. Karena hanya dengan begitu saya bisa menemui diri saya yang asli. Saya yang tidak banyak bicara, dan lebih suka mengamati. Terkadang saya merasa sedikit luka pada kenyataan saya tidak punya sesiapa untuk saya ajak bicara saat saya begitu ingin berbicara. Tidak ada nomor telepon yang bisa saya hubungi, karena memang pada dasarnya saya tidak terlalu dekat secara emosional dengan orang lain bahkan terhadap orangtua saya sendiri. Ujung-ujungnya saya cuma bisa menangis diam-diam, bertelepati sama Allah. Itulah pilhan terbaik yang saya miliki sebagai manusia.
Saya punya tingkat kepekaan dan sensitivitas yang cukup tinggi. Percaya tidak percaya, saya bisa merasakan situasi hati seseorang dengan membaca gesture, sorot mata dan air mukanya. Saya bisa tahu ketika seseorang marah atau tidak nyaman dengan kehadiran saya. Kalau diingat-ingat, saya mulai tanpa sadar ‘membaca’ orang lain waktu kelas satu MTs. Ceritanya di usia saya yang msih sangat belia, sekitar 12-13 tahun itu, saya pacaran. Ckck, kelakuan. Namanya juga abege yang sedang mencari jati diri yah. Sekarang mah udah tobat, kakaaaaak xD
Setiap orang punya masa lalunya masing-masing. Persoalannya adalah sebanyak apa kita sudah mengambil pelajaran dari kejadian-kejadian yang pernah kita alami di masa lalu. Iya, gak?
Back to story.
Orang yang saya pacari (ehm, first love. uhuks) punya label bad boy alias troublemaker di lingkungan. Saya tidak tahu kenapa rasa suka yang saya punya untuk dia bisa begitu besar bahkan mencetak rekor terlama usaha move on saya, berton-ton air mata sudah saya keluarkan LOL. Orang-orang yang mengenal saya pun sering nanya kok saya bisa suka dengan orang yang karakternya sangat berbeda jauh dengan saya? Bagai bumi dan langit. Jawabannya sederhana, karena dia yang saya lihat tidak seburuk yang lingkungan tuduhkan ke dia. Saya dan dia memiliki benang kesepian yang mirip. Tanpa perlu menggunakan rumus apa-apa, hanya dengan saling berbicara satu sama lain, saya tahu dia banyak menyimpan kesakitannya yang menurut saya terlampau berat untuk seorang anak laki-laki berusia 14 tahun. He’s too young…. Tidak ada yang berhak menyalahkan dia bila kemudian dia melarikannya ke hal-hal negatif. Tidak ada yang mau mendengarnya, atau sekadar bertanya apakah dia baik-baik saja. Orang-orang terlalu sibuk menjustifikasi, nyinyir dan memandangnya sinis. Dan itu adalah senjata pembunuh paling ampuh bagi seseorang yang sedang butuh tangan-tangan ikhlas untuk membimbingnya menemukan jalan pulang.
Dari dialah semuanya bermula…
Saya percaya setiap orang punya alasan mengapa mereka melakukan ini dan itu. Dan kita tidak punya hak men-judge atau menghakimi tanpa mau tahu apa yang melatar belakanginya.
Jatuh cinta di usia belia, menjadi korban ketidakharmonisan rumah sejak kecil, punya phobia terhadap keramaian dan ketidaksukaan pada suara bentakan, penyendiri…. Saya yang sekarang dibentuk oleh itu semua.
Jangan pernah berpikir bahwa saya menyesal telah mengalaminya. Saya justru bersyukur Allah mengenalkan aneka warna perasaan selagi saya belum cukup mapan secara emosional. Saya belajar mengenali diri saya sendiri, melewati step by step, walaupun adakalanya saya bergerak lebih lambat dari orang lain, saya tidak mau menyerah bahkan hingga detik ini.
Kita tidak akan pernah tahu betapa romantisnya melihat pelangi jika tidak ada hujan sebelum itu. Saya percaya, selalu ada pesan yang ingin disampaikan Allah pada setiap apa yang kita alami. Apa yang kita lihat, kita rasakan, dan kita dengar.
Saya memang kesepian, tetapi saya sendiri lah yang memilih jalan ini.
Saya tidak akan merasa kesepian lagi bila suatu saat, pada hari yang membahagiakan, saya dipertemukan dengan seseorang yang sudah Allah tuliskan untuk saya jauh sebelum saya lahir. Seseorang yang hanya dengan melihat matanya, saya tahu dia datang untuk saya. Seseorang yang akan setia mendengar celotehan saya tentang apa saja. Tentang kecintaan saya pada hujan, senja, dini hari dan warna hijau. Dia yang bisa saja ajak diskusi ngalor-ngidul soal buku, film, lagu, politik, hingga berapa harga bawang di pasar. Allahumma aamiin…

Saya bisa berubah menjadi orang yang sangat-sangat cerewet loh xD